Representasi Kekuasaan Simbolik dalam Pembelajaran Berbasis Kurikulum Merdeka Kelas X (Kajian Wacana Kritis Pierre Bourdieu)
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan representasi kekuasaan simbolik dalam implementasi pembelajaran berbasis Kurikulum Merdeka di kelas X SMAN 9 Gowa, berdasarkan kajian wacana kritis Pierre Bourdieu. Fokus utama penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk-bentuk kekuasaan simbolik melalui elemen eufemisasi dan sensorisasi dalam komunikasi antara guru dan siswa. Teknik pengumpulan data melalui observasi langsung, rekaman percakapan, dan pencatatan selama proses pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekuasaan simbolik tercermin pada dua elemen utama: eufemisasi dengan 18 bentuk diantaranya; 1) Permohonan, 2) Permintaan, 3) Keharusan, 4) Kewajiban, 5) Kedisiplinan, 6) Efesiensi, 7) Apresiasi, 8) Ketidakpercayaan, 9) Keyakinan, 10) Kompetensi, 11) Ketidakmampuan, 12) Kenyamanan, 13) Harapan, 14) Kebijakan, 15) Kedermawaan, 16) Bantuan, 17) Kepedulian dan 18) Kegunaan. dan sensorisasi dengan 9 bentuk diantaranya; 1) ibadah, 2) pemarjinalan, 3) ancaman, 4) paksaan, 5) kekecewaan, 6) larangan, dan 7) meminta keringanan, 8) Ketidakpatuhan, dan 9) Keegoisan. Kesimpulannya, dalam konteks pembelajaran, guru masih memegang otoritas dominan, sementara siswa cenderung menerima situasi tersebut sebagai bentuk pendisiplinan.
Data Unduhan PDF
Copyright (c) 2025 Uswatun Hasanah, Jufri Jufri, Muhammad Saleh

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.

