Perubahan Fungsi Lahan, Tindakan Tawar-Menawar, dan Perkembangan Transaksi Non Tunai Di Pasar Ngasem.
Abstract
Pasar Ngasem merupakan pasar tradisional yang berada di kawasan
strategis Keraton Yogyakarta dan mengalami perubahan fungsi lahan
dari danau, pasar burung, hingga menjadi pasar tradisional dan pusat
kuliner. Perubahan tersebut tidak hanya memengaruhi kondisi fisik
kawasan, tetapi juga berdampak pada pola interaksi sosial, praktik
tawar-menawar, serta sistem transaksi yang digunakan oleh pedagang
dan pembeli. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji transformasi
fungsi Pasar Ngasem, peran pasar sebagai pusat ekonomi dan wisata,
serta adaptasi pedagang terhadap perkembangan sistem pembayaran
non tunai seperti QRIS.
Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan
teknik pengumpulan data melalui observasi lapangan dan wawancara
sederhana dengan pedagang. Data yang diperoleh dianalisis secara
deskriptif untuk memahami perubahan fungsi lahan, respons pedagang
terhadap pembayaran digital, serta dinamika interaksi ekonomi di
pasar.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pasar Ngasem mampu
beradaptasi terhadap modernisasi tanpa sepenuhnya kehilangan
karakter pasar tradisional. Praktik tawar-menawar masih berlangsung,
meskipun mulai disesuaikan dengan kebutuhan konsumen modern.
Penerapan pembayaran non tunai menjadi bentuk adaptasi pedagang
terhadap perkembangan teknologi dan meningkatnya kunjungan
wisatawan. Dengan demikian, Pasar Ngasem tidak hanya berperan
sebagai ruang ekonomi, tetapi juga sebagai ruang sosial dan budaya
yang tetap relevan di era digital.